Berikut Ini Contoh Sekolah Yang Berbasis Pesantren

Posted on

Sekolah Yang Berbasis Pesantresn

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi dan implikasi, serta faktor pendukung dan penghambat dari manajemen sekolah berbasis pesantren (SBP) dalam pembentukan kepribadian muslim peserta didik putra di SMPIT Darul Qur‟an Gunungsindur Bogor. Metode yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah metode pengamatan (observasi), wawancara (interview), dan dokumentasi. Sedangkan pendekatan yang digunakan adalah pendekatan kualitatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa:


Pertama, implementasi manajemen sekolah berbasis pesantren (SBP) di SMPIT Darul Qur‟an Gunungsindur Bogor sudah berjalan dengan baik, karena telah menjalankan empat fungsi manajemen, yaitu: perencanaan (planning), pengorganisasian (organizing), penggerakan (actuating) dan pengawasan (controlling). Perencanaan (organizing) telah dilakukan pada saat berlangsungnya rapat kerja (raker) awal tahun pelajaran baru antara divisi pembelajaran dengan pengambil kebijakan atau pimpinan sekolah. Pada saat itu pembuatan perencanaan program kerja (proker) jangka pendek dan jangka panjang telah dilakukan. Selanjutnya, ada pengorganisasian berdasarkan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) atau job description yang diberikan pengambil kebijakan dengan membuat struktur organisasi pada setiap divisi pembelajaran yang ada, yaitu: divisi sekolah, divisi Al-Qur‟an, dan divisi pembinaan kesantrian pesantren. Selanjutnya diaktualisasikan dalam bentuk kinerja berdasarkan program kerja (proker) yang telah dibuatnya, selanjutnya dilakukan pengawasan untuk melakukan penilaian dalam mengevaluasi hasil dari kinerjanya oleh pimpinan sekolah.

Kedua, ada dua implikasi dari implementasi manajemen sekolah berbasis pesantren yang penulis temukan di SMPIT Darul Qur‟an Gunungsindur Bogor yaitu: implikasi teoritis, yang mencakup: a) perlunya dibahas kembali akan pentingnya nilai visi, misi dan tujuan sekolah/pesantren; b) perlunya dibangkitkan kesadaran kebersamaan dalam membentuk kepribadian muslim peserta didik putra kepada pendidik dan tenaga kependidikan semua divisi pembelajaran, karena pada saat ini sudah terdapat banyak guru/ustadz baru dan berusia masih muda yang tidak ikut merasakan perjuangan awal dalam membangun sekolah/pesantren; c) perlunya ditingkatkan perhatian dari pengambil kebijakan atau pimpinan kepada pendidik dan tenaga kependidikan terkait peningkatan kesejahteraan hidup dan kebutuhan anggaran pendidikan yang benar-benar dibutuhkan sekolah/pesantren.

Ketiga hal itu dimaksudkan agar para pendidik dan tenaga kependidikan setiap divisi pembelajaran dapat berkonsentrasi untuk mencapai hasil tujuan pendidikan yang diharapkan pada peserta didik putra. Selain itu, implikasi praktis yang ditemukan sebagai berikut: a) perlunya diadakan seminar terkait etika, moral dan akhlak secara berkala dan konsisten kepada peserta didik putra dari sekolah dalam upaya menjaga kepribadiannya dari pengaruh negative kemajuan teknologi globalisasi (zaman now) dan menumbuhkan kesadaran berkepribadian muslim dalam prilakunya sehari-hari; b) perlunya ditingkatkan pelaksanaan pelatihan/ seminar secara berkala dan konsisten dari pengambil kebijakan/pimpinan terkait metode pengajaran terbaru, psikologi kepribadian peserta didik, dan manajemen kepemimpinan (leadership) kepada para ustadz/ustadzah guna meningkatkan pelayanan terbaik dalam kinerjanya; c) perlunya ditingkatkan kesadaran peserta didik putra dalam mentaati aturan sekolah/pesantren yang mencakup: penghormatan kepada semua ustadz/ustadzah tanpa memandang jabatannya, dan orang yang lebih tua usianya tanpa memandang status sosialnya; d) perlunya ditingkatkan pengawasan langsung dari ustadz/ustadzah dalam pelaksanaan kegiatan sekolah, pembiasaan ibadah, menjaga kebersihan dan lainnya; e) perlunya ditingkatkan pemberian nasehat terkait keutamaan berkepribadian muslim dalam setiap melaksanakan tugasnya oleh para ustadz/ustadzah melalui kegiatan pembelajaran sekolah, upacara, tausiyah, dan tarbawwiyah; f) perlunya ditingkatkan kesadaran berempati sosial yang dapat menumbuhkan sifat kemanusiaan yang baik dalam jiwa peserta didik putra melalui kegiatan penggalangan dana sosial bagi korban bencana alam atau teman sekolahnya yang memang sedang membutuhkan dana dalam pengobatannya; g) perlunya penegakan aturan sekolah/pesantren melalui pendekatan yang lebih humanis dan bersifat mendidik bukan sekedar memberikan hukuman atas apa yang telah diperbuat peserta didik; dan h) perlunya ditingkatkan keteladanan (uswah) konkrit dari prilaku pendidik dan tenaga kependidikan di sekolah/pesantren karena dilihat langsung bahkan diikui oleh peserta didik putra. Ketiga, ditemukan adanya faktor pendukung dan penghambat yang saling berhubungan, yaitu: a) faktor pendukung, adanya figur dan keteladanan (uswah) konkrit yang ditunjukan para pendidik dan tenaga pendidik; adanya cara pendekatan dan penyampaian materi pengajaran yang lebih baik oleh para ustadz/ustadzah; adanya perhatian dan pemberian motivasi/nasehat terkait perbaikan prilaku peserta didik yang tidak sesuai ajaran islam oleh para ustadz/ustadzah; b) faktor penghambat, adanya contoh prilaku tidak baik yang sering dilihat peserta didik putra dari kakak kelasnya, ustadz/ustadzah dan orang tuanya; selain itu adanya pengaruh negatif dari kemajuan teknologi globalisasi yang masih dapat memasuki pesantren; kurangnya pengawasan/nasehat/motivasi orang tua saat masa liburan sekolah putranya di rumah dan waktu penjengukan putranya di pesantren; belum tumbuhnya kesadaran penuh dalam diri peserta didik putra betapa pentingnya mematuhi aturan sekolah/pesantren yang akan berdampak positif bagi kemajuan pembentukan kepribadian muslim dalam dirinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.